Buku Sistem Informasi Manajemen

Buku Sistem Informasi Manajemen

Buku ini merangkum secara terpadu antara ilmu sistem dan informasi, manajemen yang diaplikasikan untuk mencapai tujuan organisasi.
SEMOGA BERMANFAAT!

http://masyhudulhak.files.wordpress.com/2009/07/buku-sim-yang-akan-dipakai-edit5a2.pdf

Analisis Tata Niaga Perikanan (Studi Kasus Pemasaran Hasil Produksi Perikanan di Provinsi Bengkulu)

ABSTRACT

This research was aim to explain business fisheries sector in Bengkulu Selatan. The Approach model of this research uses contribution sector model, Gini Coefficient number and Relative Inequality. Result of analyses describes that there is direct influence with lowering of fisheries sector contribution and the difference enough among sectors of business fisheries. This matter is vital importance to be done with known manifestly mount disparities earnings of sea fisheries sector. The trouble-shooting by approach of policy of strategy arrange the approach base framework and fisheries sector commercial are approach of business dimension that is; efficiency and efectivity and institute dimension in the form of ecology, justice, regulation, social capital.

Keywords : Policy business, , institute dimension

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan menjelaskan Tata Niaga sektor perikanan tangkap Di Kabupaten Bengkulu Selatan. Model pendekatan penelitian ini mengunakan model Kontibusi Sektor, angka Gini Coefficient dan Relative Inequality. Hasil analisis mengambarkan bahwa ada pengaruh langsung dengan rendahnya kontribusi sektor perikanan tangkap dan kesenjangan yang cukup tajam antara disektor usaha perikanan. Hal ini sangat penting dilakukan dengan diketahui secara nyata tingkat disparitas pendapatan sektor perikanan laut. Pemecahan masalah tersebut dengan cara pendekatan kebijakan strategi tata niaga sektor perikanan dan kerangka dasar pendekatan tersbut adalah pendekatan dimensi bisnis yaitu; efisiensi dan efektifitas dan dimensi kelembagaan berupa ekologi, keadilan, regulasi, modal sosial.

Kata Kunci :  Kebijakan Tata Niaga,  dimensi kelembagaan

Pendahuluan

Kabupaten Bengkulu Selatan sebagai daerah yang perekonomiannya masih bersandar pada sektor pertanian (Kontribusi PDRB Tahun, 2002), sumbangan sektor tersebut yaitu (i) tanam pangan sebesar, (ii) perkebunan, (iii) Peternakan, (iv) kehutanan, (v) perikanan. sektor-sektor tersebut menjadikan sektor pertanian sebagai landasan perekonomi daerah Kabupaten Bengkulu Selatan.

Pembangunan sektor perikanan laut sebagai salah satu sumberdaya yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhaan ekonomi daerah. Potensi sumberdaya perikanan laut jika dilakukan pengelolaan yang optimal dapat menjadi salah satu sentra produksi baru dalam perekonomian daerah. Faktor-faktor yang mendukung potensi sumberdaya perikanan laut wilayah pesisir dan prasarana dan sarana cukup mendukung antara lain tempat pendaratan perikanan (TPI) nelayan tangkap jumlahnya cukup banyak dan pusat kegiatan nelayan berjarak tidak terlalu jauh dengan pusat kepemerintahan Kabupaten Bengkulu Selatan (Kota Manna).

Phonemena yang terjadi bahwa kontribusi perikanan tangkap belum memberikan sumbangan yang cukup nyata terhadap perekonomin daerah dan disparitas pendapatan masih cukup besar antara pemanfaatan sumberdaya perikanan. Penyebab masih terjadinya disparitas dalam sector prikanan tangkap dikarenakan ada disinformasi dalam informasi pasar antara lain asemistirsnya informasi pasar dengan pusat produksi. Adanya kenaikan harga di pasar tidak langsung mempengaruhi tingkat harga perikanan tangkap di nelayan. Sebaliknya jika terjadi penurun harga ikan di pasar nelayan langsung merasakannya terutama hasil pendapatan yang di dapat berkurang bahkan tidak sesuai dengan upaya yang telah dilakukan.

Hal ini di sebabkan belum berjalan tata niaga sektor perikanan tangkap secara optimal. Tata niaga mencakup efeisiensi kepengurusan dan penyelengaraan usaha (Atmo sudirdjo., 1982) dari pendapat tersebut tata niaga adalah mencakup pengolahan hasil panen, distribusi, dan pasar. Pengolahan hasil penen perikanan tangkap adalah kemampuan usaha untuk menambah nilai produksi baik melalui harga maupun tahan lamanya produksi dengan cara menyediakan sarana dan saran produksi yang berkaitan dengan perikanan tangkap antara lain batang es dan teknik pengolahan. Distribusi adalah penyampaian produk yang tepat waktu dan tepat guna. Kotler (1993) menyatakan bahwa sebuah sistem distribusi merupakan subuah sumberdaya eksternal yang penting. Stren dan El-Ansary dalam Kotler (1993) menyatakan distribusi adalah sekumpulan organisasi yang saling tergantung satu sama lain yang terlibat dalam proses penyediaan sebuah produk atau pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi. Pasar adalah tempat pertemuan penjual dan pembeli untuk didalam pasar terdapat dua konsep yaitu (i) konsep penjualan memusatkan pada kebutuhan penjualan dan (ii) konsep pemasaran memusatkan pada kebutuhan pembeli. Kartajaya (2002) menyatakan tentang pemasaran adalah sebuah displin bisnis strategi yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan values dari satu inisiator kepada stake holder.

Faktor lainnya berperan penting dalam tata niaga sektor perikanan tangkap adalah dimensi kelembagaan. Kelembagaan adalah himpunan dari pada norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok didalam kehidupan masyarakat (Soekanto dalam Sukmana., 1986). Robert Mac Iver&Charles H. Page dalam Sukmana (2005) menyatakan kelembagaan adalah sebagai tata cara atau prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang berkelompok dalam suatu kelompok masayarakat yang dinamakan assosiasi. Sedangkan ekonomi kelembagaan adalah hubungan antar manusia serta mempengaruhi prilaku dan outcomes seperti keragaan ekonomi, efisiensi, pertumbuhaan ekonomi dan pembangunan. Dalam perspektf ekonomi kelembagaan baru Williamson yang diacu dalam Fauzi (2004) menyatakan kelembagaan merupakan rules of the game yang mempengaruhi perilaku dan keragaan ekonomi dimana organisasi dibentuk dan biaya tranksaksi. Eggertsson yang diacu dalam Eriyatno (2001) menyatakan konsep biaya tranksaksi sangat esensial untuk menjelaskan hubungan antara isntitusi dan efisiensi produktif. Biaya tranksaksi dapat dipahami secara baik dalam kontek hak-hak kepemilikan.

Dari uraian tersebut tata niaga sumberdaya perikanan tidak saja pada penekanan  hanya semata-mata tentang bisnis namun dimensi kelembagaan menjadi penting dalam menata kegiatan tata niaga sumberdaya perikanan tangkap. Aspek ini terkandung dalam dua hal bahwa secara dimensi ekonomi tata niaga sektor perikanan tangkap berhubungan erat dengan efisensi ekonomi. Secara Dimensi kelembagaan ini memberikan peranan penting terhadap pengaturan sumberdaya perikanan dengan cara menjamin kelestarian ekosistemnya dan melindungi hak-hak berusaha nelayan dalam menumbuhkembangkan usahanya secara adil.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bengkulu Selatan. Jenis data yang di manfaatkan mencakup:

1)   Profil Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan keadan fisik daerah pesisir yang meliputi kondisi alam, (kondisi geologi, iklim, tempratur, dan angin, jenis tanah, topografi, dan peta tematik yang berhubungan dengan wilayah pesisir)

2)   PDRB Kabupaten Bengkulu secara periodik

3)   Keadaan sosial ekonomi masyarakat terdiri dari: Ketenaga kerjaan, tingkat pendapatan masyarakat pesisir, produksi perikanan laut, jumlah armada penangkapan,

Pengumpulan data

Pengumpulan data didapat (i) Bappeda Kabupaten Bengkulu Selatan,(ii) Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkulu Selatan (iii) BPS Kabupaten Bengkulu Selatan, (iv) Tempat Pelelangan Ikan (v) Unit Sumberdya  dan konservasi Alam Bengkulu (vi) Melakukan wawancara sebagai input untuk penulisan ini terhadap:

1) Tokoh masyarakat, terdiri tokoh politik, tokoh ormas dan kelompok nelayan

2) Pihak swasta (pengusaha) yang memanfaatkan sumberdaya wilayah pesisir.

Analisis data

Analisis dilakukan secara diskriptif analitik dan Kuantitatif. Secara diskriftip analitik dengan memberikan gambaran tentang data PDRB (Produk Demostik Regional Brutto) tahun 1990–2002 dan anggaran pembangunan dan pengeluaran Pemerintah daerah, jumlah penduduk yang berada diwilayah pesisir, data potensi dan pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir.

Analisis secara kuantitatif digunakan beberapa metode analisis yaitu; (i) analisis kontribusi sektor perikanan tangkap secara priode waktu gunanya untuk mengambarkan besar kontribusi sektor perikanan.

Ks= ……………………………………………………………..(1)

Ks  = Kontribusi Sektor

Vas = Nilai tambah bersih sektor

PDRB = Produk Demostik Regional Bruto

(ii) pendekatan model angka gini ini di gunakan untuk mengukur koefisien sebaran dari tingakat pendapatan adalah:

GC =…………………………………………………………………(2)

GC =  Angka Koefisien Gini

Xi = Proporsi jumlah RT

Yi = Proporsi Jumlah pendapatan

Model-model pendekatan analisis tersebut diatas kegunaanya sebagai dasar untuk menganalisis tata niaga sektor perikanan secara jelas digambarkan dalam diagram alir berikut ini.

Gambar Diagram Alir Analisis Tata Niaga Sektor Perikanan Tangkap

Kabupaten Bengkulu Selatan

Pembahasan

Hasil analisis bahwa kontribusi sektor perikanan tangkap terhadap perekonomian wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan menunjukan dari selama periode  1993-2001. Mengambar dari tahun- ketahun cukup signifikan laju pertumbuhaannya lihat Tabel Grafik 2 berikut ini.

Gambar 1. Kontribusi Sektor Perikanan Tangkap Terhadap PDRB Sektor Perikanan Tahan 1993-2001 (Atas harga Berlaku)

Besarnya kontribusi terhadap PDRB sektor menunjukan bahwa sektor perikanan tangkap di Kabupaten Bengkulu cukup mempengaruhi tingkat produksi perikanan. Namun sektor perikanan tangkap terhadap kontribusi PDRB wilayah sektor perikanan tangkap masih terlalu kecil. Secara jelasnya disajikan dalam gambar 2  grafik tabel berikut ini

Gambar2

Tampilan grafik tabel diatas menunjukan kontribusi sektor perikanan pada tahun 1993 dan 1994 belum mencapai 1 % dari PDRB Wilayah kecilnya sumbangan tersebut disebabkan pada saat itu upaya tangkap masih banyak memakai perahu tanpa motor pada tahun 1997 s/d 2001 kontribusi sektor perikanan tangkap sudah diatas 1 % pada tahun tersebut nelayan tangkap sudah memakai upaya tangkapnya dengan perahu motor tempel. Hal ini menunjukan adanya ada hubungan yang positif  tingkat produksi terhadap terhadap upaya tangkap dengan pengunaan teknologi Selengkapnya disajikan dalam gambar berikut ini.

Gambar 3

Gambar 3. Perahu Tanpa Motor Dan Perahu Motor Tempel,

Laju Perkembangan Produksi Perikanan Tangkap Tahun 1993-2002

Tampilan gambar 3 diatas mengambarkan banyak perahu tanpa motor (PTM) dan perahu motor tempel (PMT) dan laju produksi perikanan tangkap yang didaratkan oleh nelayan.Tahun 1993 s/d 1995 laju upaya tangkap dengan mengunakan motor tempel peningkatanya cukup besar dari 1553 ton meningkat 2357 ton kenaikan ini menunjukan secara nyata adanya hubungan antara pengunaan teknologi usaha tangkap produksi. Namun tahun 1999 s/d 2002 ada kecenderungan laju pertumbuhaan produksi perikanan terlihat stagnasi hal ini dikarenakan pada tahun 1999 s/d 2002 Indonesia belum bangkit terhadap krisis ekonomi. Dampak krisis tersebut cukup besar pengaruhnya terhadap usaha perikanan tangkap terutama dalam hal bahan bakar minyak(BBM) dan suku cadang motor tempel, yang pada umum motor tempel nelayan Kabupaten Bengkulu Selatan adalah buatan dari jepang, meyebabkan pada saat itu motor tempel tidak beroperasi.

Perkembangan tingkat pendapatan sektor perikanan tangkap dari tahun 1993 s/d 2001 terjadi disparitas pendapatan usaha nelayan disparitas tersebut di tampilkan pada gambar 4 berikut ini

gambar 4 Grafik Tabel Perkembangan Angka Gini C Pendapatan Usaha Tangkap Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 1990-2002

Gambar 4. Grafik Tabel Perkembangan Angka Gini C Pendapatan Usaha                          Tangkap Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 1990-2002

Tampilan gambar hasil analisis angka Gini Koefisien usaha tangkap nelayan Kabupaten Bengkulu Selatan  bahwa dari tahun 1990 s/d 1994 tingkat pendapatan disparitasnya dalam pada level disparitas pendapatan yang cukup tinggi. Tahun 1995 s/d 1997 disparitas mengecil dan sampai tahun 2002 terus mengecil. Angka gini koefisien yang ditampilkan menunjukan laju disparitas pendapatan nelayan makin mengecil. Belumlah mengambarkan tingkat kesejahteraan nelayan secara umum untuk itu dilakukan dengan pendekatan inqualty  dari hasil analisis proporsi produksi masih banyak terserap pada usaha nelayan tangkap memakai perahu motor tempel, lihat gambar tabel 5 dibawah ini

Tabel 5. Perkembangan Proporsi Pendapatan Usaha Tangkap Kabupaten

Bengkulu  Selatan Tahun 1990-2002

PTM

PMT

Tahun

Jml Armada

% Pendapatan

Jml Armada

% Pendapatan

1993

262

45.80

121

54.20

1994

400

45.35

162

54.65

1995

323

36.83

262

63.17

1996

351

38.44

265

61.56

1997

363

38.78

311

61.22

1998

246

44.65

317

55.35

1999

364

33.89

322

66.11

2000

287

29.59

434

70.41

2001

280

29.02

438

70.98

2002

478

41.10

499

58.90

Sumber: Diolah dari data BPS dan Dinas Kelautan dan Perikanan

.

Gambar 5 diatas menampilkan bahwa proposi terbesar penyerapan produksi sumberdaya perikanan tangkap terserap oleh perahu motor tempel 1993 s/d 1994 proposi pendapatan usaha perikanan terlihat cukup berimbang. Dari tahun 1995 s/d 2002 seiring dengan bertambahnya perahu motor tempel proporsi produksi banyak terserap pada perahu motor tempel dengan analisis tersebut ada ketidak seimbangan produktivitas dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di Kabupaten Bengkulu Selatan.

ikan1-enggano

Strategi Kebijakan Tata Niaga Sektor Perikanan

Sektor perikanan tangkap yang terletak diwilayah pesisir mempunyai potensi sumberdaya perikanan yang beragam dan bernilai ekonomi tinggi antara lain udang lobster jenis-jenis ikan yang berkualitas yang cukup banyak didaratkan diperairan pesisir Kabupaten Bengkulu Selatan dapat menjadi salah satu sumber pendapatan perekonomian daerah. Untuk tercapainya pemanfatan sektor perikanan tangkap optimal harus melakukan kebijakan yang terpadu dengan dimensi bisnis dan dimensi kelembagaan kedua dimensi tersebut haruslah secara terpadu dalam implementasinya dalam mengatur tata niaga sektor perikanan.

Straegi kebijakan yang perlu dilakukan dalam tata niaga sektor perikanan adalah; dimensi bisnis mencakup tiga elemen yaitu; (i) efisiensi, (ii) Efektifitas. Sedangkan dimensi kelembaga mencakup; (i) menjamin kelestarian ekosistem perikanan, (ii) menjamin keadilan berusaha, (iii) alat rugulasi terhadap sumberdaya perikanan, (iv) mendorong tumbuh kembangnya modal sosial dalam masyarakat nelayan. Selengkapnya disajikan dalam gambar 6 berikut ini.

Faktor Pendukung

Pembangunan Infra struktur yang mendorong pertumbuhan sektor perikanan

Pembangunan Sumberdaya Manusia ( Iptek, Skill, Sikap dan Prilaku)

Pengembangan Teknologi ramah Lingkungan dan tepat Guna

Perdagangan antara Wilayah

Faktor Utama

Dimensi Bisnis

Dimensi Kelembagaan

Efisensi Efektifitas Ekosistem Keadilan Regulasi Modal Sosial
Pengunaan alat tangkap yang sesuai Pengolahan pasca panen kesesuain daya dukung ekolgi Memberikan ruang kepastian berusaha Peraturan dan undang yang mendorong kepastian berusaha Tumbuh kembangnya budaya kerja dan kearipan lokal
Pengunaan sarana produksi yg tepat Penguasan Jalur distribusi dan informasi pasar Kesesuaian daya dukung ekonomi Menjamin mendapat-kan teknologi dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan Adanya limited entry dalam pengunaan sumberdaya perikanan human relation peman faatan sumber-daya per-ikanan dan minimnya konflik
Pemanfaatan bahan bakar minyak Pengelolaan pemasaran dan mendapat profitibilitas dalam usaha Adanya alokasi sumberdaya perikanan Terjamnya pemerataan dalam proposi produksi Keaman dan ketertiban dikawasan sumberdaya perikanan Terbangunan rasa semngat untuk memelihara sumberdaya perikanan

Gambar Frame Work Kebijakan Startegi Tata Niaga Perikanan Tangkap Kabupaten Bengkulu Selatan

Kesimpulan.

Hasil analisis yang telah di paparkan diatas bahwa tata niaga sektor perikanan belum berjalan secara optimal hal ini disebabkan masih rendahnya kontribusi  sektor perikanan tangkap terhadap perekonomian wilayah yang digambarkan dalam tabel grafik diatas dan masih tingginya laju disparitas serta belum meratanya proposi penyerapan produksi sumberdaya perikanan tangkap untuk itu memerlukan kebijakan strategi dalam meminimumkan permasalahan di sektor perikanan tangkap pilihannya adalah dengan cara kebijakan strategi yang pendekatan keterpaduan dimensi bisnis dan dimensi kelembagaan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arsyad, L. 1999. Ekonomi Pembangunan. Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Yogyakarta

Atmosudirdjo., 1982. Dasar-Dasar Administrasi Niaga. Penerbit Ghalia Indonesia Jakarta

Eriyatno., 2001. Sistem Pengembangan Perekonomian Daerah Berlandaskan Kemampuan Sumberdaya Local. Dalam Manajemen Otonomi Daerah. Penerbit PT. Ujung Gading Sakti. Jakarta.

Budiharsono Sugeng. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir Dan Lautan. Cetakan Pertama PT Pradnya Paramita Jakarta

Badan Pusat Statistik,. 2002. Bengkulu Selatan Dalam Angka. Penerbit Badan Pusat Statistik Bengkulu Selatan

Fauzi A., 2004. Kumpulan Pemikiran Kebijakan Ekonomi Perikanan Dan Kelautan. Penerbit PT. HUP Bandung.

Kartajaya Hermawan.,2005. Mark Plus On Strategy. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Kotler Philip., 1993. Manajemen Pemasaran., Penerbit PT. Midas Surya Grafindo., Jakarta

Masyhudulhak.2004. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Dalam Perspektif Otonomi Daerah Di Provinsi Bengkulu (Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Selatan) Disertasi Sekolah Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

Sukmana Oman., 2005. Sosialogi Politik Ekonomi. Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang

Undang-Undang Otonomi Daerah 1999. 2000. UU.NO.22 TH.1999 tentang Pemerintahan Daerah. UU NO.25 TH.1999 tentang Perimbangan Keuangan Anatar Pemerintahan Pusat Dan Daerah. Penerbit Restu Agung Jakarta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.